Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sekolah Penerbangan Nusantara (SPN) Dirgantara Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Dunya Harun membantah bahwa pihak sekolah melakukan kekerasan fisik terhadap siswa.
“Adanya isu yang berkembang di tengah masyarakat dan di media tidak benar,” ujar Dunya saat dikonfrimasi, Kamis (18/11/2021).
Selama ini pihaknya melakukan upaya untuk mengarahkan anak didik mereka menjadi bibit unggul, dan berdaya di dunia kerja.
“Dalam proses mengarahkan anak didik tersebut, memang ada kegiatan fisik, tapi itu berupa push up, squat jump bahkan koprol,” katanya.
Mengenai tuduhan bahwa adanya sel di sekolah, Dunya mengakui bahwa ruangan tersebut hanya berupa tempat pembinaan. Dengan tujuan untuk mendisiplinkan anak didik yang melanggar aturan atau berbuat salah.
“Ditempatkan di situ (ruang sel) supaya mereka menyadari perbuatannya salah, dan kami arahkan untuk tidak berbuat hal itu lagi,” ucapnya.
Setiap anak yang dimasukkan dalam ruangan berupa sel tersebut, Dunya menyampaikan ada durasi yang telah diatur. Misalnya diatur 7 hari, selama itu, si anak hanya berdiam di dalam ruangan, dan baru keluar ketika jam pelajaran.
“Jadi kalau pelajaran dimulai, mereka tetap ikut belajar seperti biasa,” jelasnya.
Tidak hanya ditempatkan di sel, berdasarkan laporan yang diterima Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kota Batam, juga ada upaya anak-anak didik dirantai.
Menjawab hal itu, Dunya mengelak bahwa tindakan tersebut dilakukan pihak sekolah, Ia berdalih bahwa foto-foto anak yang dirantai merupakan hasil keisengan dari siswa.
“Kalaupun ada, itu di luar daripada pengetahuan kami, biasa anak-anak ini bermain-main dengan temannya, terus difoto, sehingga itulah yang mungkin terkeluarkan, ekspresi sesaat,” katanya.