Wanita asal Jepang itu pun tak kuasa menahan tetesan air mata.
Bukan hal mudah bagi Dewi untuk menemui Soekarno, saat Presiden ke-1 Republik Indonesia (RI) itu menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta.
Dari Paris, ia nekat terbang ke Jakarta untuk melihat kondisi sang suami.
Namun saat di Bangkok, ia dilarang melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Dewi bercerita, Duta Besar di sana saat itu tidak memberikan alasan apapun dan hanya bilang, ia tidak boleh menemui Soekarno di Wisma Yaso.
Sama halnya saat di Singapura, Dewi mendapat larangan dari Duta Besar di sana. "Dia mengatakan: Ibu, Anda tidak diizinkan datang ke Jakarta'. Saya bilang, maaf," ungkap wanita yang biasa disapa Madame Dewi ini, dikutip dari YouTube channel CNN Indonesia, Jumat (27/3/2020).
Ya, ketika itu pada 1970, dari Wisma Yaso, Soekarno dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.
Dewi lalu menceritakan kondisi rumah tahanan Soekarno saat itu.
"Sebelum beliau dibawa ke rumah sakit, saya melihat tempat tidurnya kotor, seprainya tidak pernah dicuci," kenangnya.
Ia kemudian ke ruang ganti, katanya, di sana ada dua buah keranjang untuk perangkap tikus. Wanita kelahiran Tokyo, 80 tahun silam ini juga melihat alat cukur yang sudah karatan di toilet.
Ada juga beberapa perlengkapan medis, yang menurutnya tidak pernah digunakan.
Soekarno dan istri ke-6, Ratna Sari Dewi
Soekarno dan istri ke-6, Ratna Sari Dewi/ Foto: instagram
Seorang pelayan yang pernah bekerja untuknya di Wisma Yaso itu, lalu mengatakan tentang kondisi Soekarno sebelum dibawa ke rumah sakit. Madme Dewi lalu menceritakan, Soekarno dibawa menggunakan tandu.
"Dia berkata: 'Ibu, saat Bapak masuk rumah sakit, beliau masih sangat sehat, beliau diangkut menggunakan tandu'. Beliau berusaha keras untuk berdiri. 'Saya tidak mau ke rumah sakit. Saya ingin menunggu Ibu Dewi di sini'," ungkap istri keenam Soekarno ini.
Madame Dewi meyakini, saat itu Soekarno tidak benar-benar sakit. Ia juga mengatakan kalau sang suami berteriak menolak dibawa ke rumah sakit.
Bapak menderita
Setibanya di rumah sakit, Madame Dewi melihat Soekarno dalam keadaan mulut terbuka lebar, selama berjam-jam. Ia pun menganggap kondisi itu sangat janggal, lalu memutuskan bertanya pada temannya yang seorang dokter.
"Saya melihat detik-detik terakhir sebelum beliau meninggal, bagaimana beliau menderita. Dan saya menjelaskan situasi saat itu, menurutnya, Bapak diberi terlalu banyak obat tidur," ungkap Madame Dewi.
Hingga akhirnya, Soekarno mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada 21 Juni 1970. Ketika itu, Madame Dewi pun tak kuasa menahan tangisnya.
Ia kemudian berusaha mencari tahu kondisi Soekarno sebenarnya.
"Saya menangis, saya ingin menemui lima dokter yang merawatnya, namun saya tidak bisa menemui mereka.
Ini tidak adil, saya memaksa kemudian tiga dari lima dokter itu akhirnya datang," ucap ibunda Karina Kartika Sari Dewi Soekarno ini.
"Dan saya bertanya tentang kondisi sebenarnya. Kemudian salah satu dokter mengatakan, 'Mohon maaf Ibu, saya tidak bisa mengatakan apapun.
"
Dikutip dari Wikipedia, jenazah Soekarno dipindahkan dari RSPAD Gatot Subroto ke Wisma Yaso.
Sang Proklamator lalu dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, pada 22 Juni 1970. Pemerintah pun menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.
Masyarakat mengikuti pemakaman Sukarno di Blitar, 22 Juni 1970. (Repro Cindy Adams, Sukarno My Friend). Sukarno Meninggal Dunia Masyarakat mengikuti pemakaman Sukarno di Blitar, 22 Juni 1970.
(Repro Cindy Adams, Sukarno My Friend). empat pemakaman Sukarno, dia mengundang para pemimpin partai dan pelbagai tokoh masyarakat.
“Jelas, Soeharto menganggap ini masalah politik yang cukup pelik. Jadi, pemakaman tidak ditentukan oleh keluarga, tetapi melalui petimbangan elite politik,” tulis Asvi.
Soeharto pun memutuskan untuk memakamkan Sukarno di Blitar, di samping makam ibunya, pada 22 Juni 1970. Pemakaman di Blitar itu dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 Tahun 1970 tertanggal 21 Juni 1970.
Menurut Jusuf Wanandi, Soeharto mengingkari pesan akhir Sukarno yang ingin dikubur di bawah pohon yang rindang di Istana Bogor.
Tapi itu akan menempatkan makamnya terlalu dekat dengan Jakarta dan dapat dipolitisasi oleh para pendukungnya.
“Sekali lagi kita menyaksikan kehebatan Soeharto dengan nalurinya untuk tetap berjaya,” kata Jusuf Wanandi.
Pada 21 Juni 1970, Presiden Sukarno mengebuskan napas terakhirnya. Di pengujung hidupnya, dia jalani dengan memilukan.
Setelah dijatuhkan pada Maret 1967 dengan naiknya Jenderal Soeharto menjadi presiden, Sukarno menjadi tahanan rumah di Istana Bogor, kemudian dipindahkan ke Wisma Yaso di Jakarta (Sekarang Museum Satria Mandala).
jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), menyebut bahwa beberapa oknum dari intelijen Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang ingin membuktikan keterlibatan Sukarno dalam gerakan makar PKI (mungkin tanpa perintah Soeharto) menetapkan Bung Karno berstatus tahanan rumah, sementara penyelidikan berlangsung.
“Laporan resmi pemeriksaan ini tidak pernah dikeluarkan,” katanya dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998.
Sukarno dikucilkan dari rakyatnya di Wisma Yaso sejak pengujung Desember 1967.
“Bahkan, keluarga dan kerabatnya pun sulit menemui Bung Karno.
Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang,” tulis sejarawan Bob Hering dalam Soekarno Arsitek Bangsa.
Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta dua periode (1966-1977), pernah menengok Sukarno di Wisma Yaso, mengungkapkan “keadaan tempat tinggal itu kotor, kotor sekali.
Kebunnya tidak diurus. Di dalam ruangan di rumah itu debu di mana-mana.
Padahal Bung Karno sangat menyukai kebersihan, sangat tidak senang dengan kekotoran.
Jangankan pada kekotoran yang begitu tampak dan bertumpuk, debu sedikit pun tidak beliau senangi.
Beliau sangat teliti, mencintai keindahan dan kebersihan.”Saya menjadi amat sedih.
Pikiran saya, kok, mengapa tega-teganya orang terhadap beliau, sampai beliau –pemimpin bangsa itu– diperlakukan seperti itu. Saya yakin, beliau pasti menderita.
Apakah itu disengaja? Masa’ ada yang sengaja berbuat begitu?” kata Ali dalam Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi karya Ramadhan KH.
Harapan Bung Karno pada Ali Sadikin Sesudah jatuh sakit selama waktu singkat dan tanpa perawatan yang baik, Sukarno meninggal pada pukul tujuh pagi, 21 Juni 1970.
Dia dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, berwasiat agar dimakamkan “di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus.
Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan.
Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal.
Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen.”
Selain itu, menurut sejarawan Asvi Warman Adam, sahabat Sukarno, Masagung dalam buku Wasiat Bung Karno (yang baru tebit tahun 1998) mengungkapkan bahwa Sukarno telah menulis semacam wasiat, masing-masing dua kali, kepada istrinya Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei 1965) dan Ratna Sari Dewi (20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962).
“Di dalam salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor,” tulis Asvi dalam Bung Karno Dibunuh Tiga Kali.
Namun, Presiden Soeharto dalam otobiografinya menyatakan bahwa sebelum memutuskan t
Namun, Presiden Soeharto dalam otobiografinya menyatakan bahwa sebelum memutuskan tempat pemakaman Sukarno, dia mengundang para pemimpin partai dan pelbagai tokoh masyarakat.
"Jelas, Soeharto menganggap ini masalah politik yang cukup pelik. Jadi, pemakaman tidak ditentukan oleh keluarga, tetapi melalui petimbangan elite politik,” tulis Asvi.
SoDetik-detik saat Soekarno mengembuskan napas terakhir, masih lekat dalam ingatan sang istri, Ratna Sari Dewi.
Wanita asal Jepang itu pun tak kuasa menahan tetesan air mata.Bukan hal mudah bagi Dewi untuk menemui Soekarno, saat Presiden ke-1 Republik Indonesia (RI) itu menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta. Dari Paris, ia nekat terbang ke Jakarta untuk melihat kondisi sang suami.
Namun saat di Bangkok, ia dilarang melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Dewi bercerita, Duta Besar di sana saat itu tidak memberikan alasan apapun dan hanya bilang, ia tidak boleh menemui Soekarno di Wisma Yaso.
Sama halnya saat di Singapura, Dewi mendapat larangan dari Duta Besar di sana. "Dia mengatakan: Ibu, Anda tidak diizinkan datang ke Jakarta'. Saya bilang, maaf," ungkap wanita yang biasa disapa Madame Dewi ini, dikutip dari YouTube channel CNN Indonesia, Jumat (27/3/2020).
Ya, ketika itu pada 1970, dari Wisma Yaso, Soekarno dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Dewi lalu menceritakan kondisi rumah tahanan Soekarno saat itu.
"Sebelum beliau dibawa ke rumah sakit, saya melihat tempat tidurnya kotor, seprainya tidak pernah dicuci," kenangnya.
Ia kemudian ke ruang ganti, katanya, di sana ada dua buah keranjang untuk perangkap tikus. Wanita kelahiran Tokyo, 80 tahun silam ini juga melihat alat cukur yang sudah karatan di toilet. Ada juga beberapa perlengkapan medis, yang menurutnya tidak pernah digunakan.
Seorang pelayan yang pernah bekerja untuknya di Wisma Yaso itu, lalu mengatakan tentang kondisi Soekarno sebelum dibawa ke rumah sakit. Madme Dewi lalu menceritakan, Soekarno dibawa menggunakan tandu.
"Dia berkata: 'Ibu, saat Bapak masuk rumah sakit, beliau masih sangat sehat, beliau diangkut menggunakan tandu'. Beliau berusaha keras untuk berdiri. 'Saya tidak mau ke rumah sakit. Saya ingin menunggu Ibu Dewi di sini'," ungkap istri keenam Soekarno ini.
Madame Dewi meyakini, saat itu Soekarno tidak benar-benar sakit. Ia juga mengatakan kalau sang suami berteriak menolak dibawa ke rumah sakit.
Sama halnya saat di Singapura, Dewi mendapat larangan dari Duta Besar di sana. "Dia mengatakan: Ibu, Anda tidak diizinkan datang ke Jakarta'. Saya bilang, maaf," ungkap wanita yang biasa disapa Madame Dewi ini, dikutip dari YouTube channel CNN Indonesia, Jumat (27/3/2020).
Ya, ketika itu pada 1970, dari Wisma Yaso, Soekarno dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Dewi lalu menceritakan kondisi rumah tahanan Soekarno saat itu.
"Sebelum beliau dibawa ke rumah sakit, saya melihat tempat tidurnya kotor, seprainya tidak pernah dicuci," kenangnya.
Ia kemudian ke ruang ganti, katanya, di sana ada dua buah keranjang untuk perangkap tikus. Wanita kelahiran Tokyo, 80 tahun silam ini juga melihat alat cukur yang sudah karatan di toilet. Ada juga beberapa perlengkapan medis, yang menurutnya tidak pernah digunakan.
"Dia berkata: 'Ibu, saat Bapak masuk rumah sakit, beliau masih sangat sehat, beliau diangkut menggunakan tandu'. Beliau berusaha keras untuk berdiri. 'Saya tidak mau ke rumah sakit. Saya ingin menunggu Ibu Dewi di sini'," ungkap istri keenam Soekarno ini.
Madame Dewi meyakini, saat itu Soekarno tidak benar-benar sakit. Ia juga mengatakan kalau sang suami berteriak menolak dibawa ke rumah sakit.
Bapak menderita
Setibanya di rumah sakit, Madame Dewi melihat Soekarno dalam keadaan mulut terbuka lebar, selama berjam-jam. Ia pun menganggap kondisi itu sangat janggal, lalu memutuskan bertanya pada temannya yang seorang dokter.
"Saya melihat detik-detik terakhir sebelum beliau meninggal, bagaimana beliau menderita. Dan saya menjelaskan situasi saat itu, menurutnya, Bapak diberi terlalu banyak obat tidur," ungkap Madame Dewi.
Hingga akhirnya, Soekarno mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada 21 Juni 1970. Ketika itu, Madame Dewi pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia kemudian berusaha mencari tahu kondisi Soekarno sebenarnya.
"Saya menangis, saya ingin menemui lima dokter yang merawatnya, namun saya tidak bisa menemui mereka. Ini tidak adil, saya memaksa kemudian tiga dari lima dokter itu akhirnya datang," ucap ibunda Karina Kartika Sari Dewi Soekarno ini.
"Dan saya bertanya tentang kondisi sebenarnya. Kemudian salah satu dokter mengatakan, 'Mohon maaf Ibu, saya tidak bisa mengatakan apapun.'"
Dikutip dari Wikipedia, jenazah Soekarno dipindahkan dari RSPAD Gatot Subroto ke Wisma Yaso. Sang Proklamator lalu dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, pada 22 Juni 1970. Pemerintah pun menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.
“Jelas, Soeharto menganggap ini masalah politik yang cukup pelik. Jadi, pemakaman tidak ditentukan oleh keluarga, tetapi melalui petimbangan elite politik,” tulis Asvi.
Soeharto pun memutuskan untuk memakamkan Sukarno di Blitar, di samping makam ibunya, pada 22 Juni 1970. Pemakaman di Blitar itu dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 Tahun 1970 tertanggal 21 Juni 1970.
Menurut Jusuf Wanandi, Soeharto mengingkari pesan akhir Sukarno yang ingin dikubur di bawah pohon yang rindang di Istana Bogor.
Tapi itu akan menempatkan makamnya terlalu dekat dengan Jakarta dan dapat dipolitisasi oleh para pendukungnya.
“Sekali lagi kita menyaksikan kehebatan Soeharto dengan nalurinya untuk tetap berjaya,” kata Jusuf Wanandi.
Pada 21 Juni 1970, Presiden Sukarno mengebuskan napas terakhirnya. Di pengujung hidupnya, dia jalani dengan memilukan.
Setelah dijatuhkan pada Maret 1967 dengan naiknya Jenderal Soeharto menjadi presiden, Sukarno menjadi tahanan rumah di Istana Bogor, kemudian dipindahkan ke Wisma Yaso di Jakarta (Sekarang Museum Satria Mandala).
Jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), menyebut bahwa beberapa oknum dari intelijen Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang ingin membuktikan keterlibatan Sukarno dalam gerakan makar PKI (mungkin tanpa perintah Soeharto) menetapkan Bung Karno berstatus tahanan rumah, sementara penyelidikan berlangsung.
“Laporan resmi pemeriksaan ini tidak pernah dikeluarkan,” katanya dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998.
Sukarno dikucilkan dari rakyatnya di Wisma Yaso sejak pengujung Desember 1967.
“Bahkan, keluarga dan kerabatnya pun sulit menemui Bung Karno.
Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang,” tulis sejarawan Bob Hering dalam Soekarno Arsitek Bangsa.
Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta dua periode (1966-1977), pernah menengok Sukarno di Wisma Yaso, mengungkapkan “keadaan tempat tinggal itu kotor, kotor sekali.
Kebunnya tidak diurus. Di dalam ruangan di rumah itu debu di mana-mana.
Padahal Bung Karno sangat menyukai kebersihan, sangat tidak senang dengan kekotoran.
Jangankan pada kekotoran yang begitu tampak dan bertumpuk, debu sedikit pun tidak beliau senangi.
Beliau sangat teliti, mencintai keindahan dan kebersihan.”Saya menjadi amat sedih.
Pikiran saya, kok, mengapa tega-teganya orang terhadap beliau, sampai beliau –pemimpin bangsa itu– diperlakukan seperti itu. Saya yakin, beliau pasti menderita.
Apakah itu disengaja? Masa’ ada yang sengaja berbuat begitu?” kata Ali dalam Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi karya Ramadhan KH.
Harapan Bung Karno pada Ali Sadikin Sesudah jatuh sakit selama waktu singkat dan tanpa perawatan yang baik, Sukarno meninggal pada pukul tujuh pagi, 21 Juni 1970.
Dia dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, berwasiat agar dimakamkan “di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus.
Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan.
Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal.
Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen.”
Selain itu, menurut sejarawan Asvi Warman Adam, sahabat Sukarno, Masagung dalam buku Wasiat Bung Karno (yang baru tebit tahun 1998) mengungkapkan bahwa Sukarno telah menulis semacam wasiat, masing-masing dua kali, kepada istrinya Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei 1965) dan Ratna Sari Dewi (20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962).
“Di dalam salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor,” tulis Asvi dalam Bung Karno Dibunuh Tiga Kali.
Namun, Presiden Soeharto dalam otobiografinya menyatakan bahwa sebelum memutuskan t
Namun, Presiden Soeharto dalam otobiografinya menyatakan bahwa sebelum memutuskan tempat pemakaman Sukarno, dia mengundang para pemimpin partai dan pelbagai tokoh masyarakat.“Jelas, Soeharto menganggap ini masalah politik yang cukup pelik. Jadi, pemakaman tidak ditentukan oleh keluarga, tetapi melalui petimbangan elite politik,” tulis Asvi.
Soeharto pun memutuskan untuk memakamkan Sukarno di Blitar, di samping makam ibunya, pada 22 Juni 1970.
Pemakaman di Blitar itu dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 Tahun 1970 tertanggal 21 Juni 1970. Menurut Jusuf Wanandi,
Soeharto mengingkari pesan akhir Sukarno yang ingin dikubur di bawah pohon yang rindang di Istana Bogor.
Tapi itu akan menempatkan makamnya terlalu dekat dengan Jakarta dan dapat dipolitisasi oleh para pendukungnya.
“Sekali lagi kita menyaksikan kehebatan Soeharto dengan nalurinya untuk tetap berjaya,” kata Jusuf Wanandi.eharto pun memutuskan untuk memakamkan Sukarno di Blitar, di samping makam ibunya, pada 22 Juni 1970.
Pemakaman di Blitar itu dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 Tahun 1970 tertanggal 21 Juni 1970. Menurut Jusuf Wanandi,
Soeharto mengingkari pesan akhir Sukarno yang ingin dikubur di bawah pohon yang rindang di Istana Bogor.
Tapi itu akan menempatkan makamnya terlalu dekat dengan Jakarta dan dapat dipolitisasi oleh para pendukungnya.
“Sekali lagi kita menyaksikan kehebatan Soeharto dengan nalurinya untuk tetap berjaya,” kata Jusuf Wanandi.
