Kembali lagi perseteruan antara As dan China di pasar Bisnis global yang kian memarak presiden amerika serikat joe baiden membuka siaran pers langsung dari gedung putih.
Ada masalah yang di bahas tidak jauh dari berterkaitan dengan musuh bisnis nya sendiri China.
Lembaga ini membuat senjata pengontrol otak meski tak dijelaskan lebih lanjut.
"Pengejaran ilmiah bioteknologi dan inovasi medis dapat menyelamatkan nyawa.
Sayangnya, China memilih untuk menggunakan teknologi ini untuk mengejar 'kontrol atas rakyatnya' dan penindasannya terhadap anggota kelompok etnis dan agama minoritas," tulis Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo dalam sebuah pernyataan yang diyakini merujuk pada isu pelanggaran hak asası manusisa (HAM) di Xinjiang.
Xinjiang sendiri saat ini menjadi salah satu sumber hotspot konflik AS-China.
Di mana Departemen Luar Negeri AS menyebut, ada pelecehan terhadap warga minoritas muslim Uyghur dan lainnya, seperti kerja paksa dengan dukungan negara dan penahanan massal.
Terdapat pula empat perusahaan China yang di-blacklist karena peran besarnya dalam moderenisasi militer Negeri Xi Jinping. Salah satunya pembuat drone DJI.
Lalu ada lima perusahaan lain yang diduga mencoba mencuri teknologi AS untuk meningkatkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China.
Hal itu diyakini merugikan ekonomi AS miliaran dolar dan ribuan pekerja.
Di hari yang sama, Departemen Keuangan AS juga mengumumkan sanksi ke entitas teknologi China.
Yakni Cloudwalk Technology, Dawning Information Industry, Leon Technology Company, Megvii Technology, Netposa Technologies, SZ DJI Technology, Xiamen Meiya Pico Information, dan Yitu.
Departemen Perdagangan juga mengambil tindakan terhadap entitas China yang berlokasi di Georgia, Malaysia, dan Turki.
Mereka diduga mencoba atau telah mengalihkan barang-barang AS ke program militer Iran.
China sendiri belum memberi komentar soal ini. Kedutaan Besar China menurut sejumlah media asing, belum berkomentar.
China terlihat tidak merespon apa yang di tuding amerika pada negara yang di juluki tirai bambu ini namun berita yag beredar sudah sampai ke pihak china.