
Dia memiliki watak yang jahil dan kreatif, sehingga yang berada di dekatnya bisa tertawa bahagia. Meskipun wataknya lucu, Nu’aiman juga merupakan seorang mujahid sejati. Dia tercatat sebagai Ashabul Badr, pejuang yang pernah mengikuti perang Badar bersama Rasulullah.
Nu’aiman juga banyak melakukan hal-hal konyol dan jahil yang mampu membuat Rasulullah dan sahabat lainnya tidak kuat menahan tawa. Target keusilannya bukan hanya para sahabat, tapi juga Rasulullah SAW.
Karena itu, Rasulullah pernah berkata, “Nu’aiman akan masuk surga sambil tertawa, karena ia sering membuatku tertawa.”
Disni saya akan mengkisah 3 dari sekian banyak kisah kekonyolan nu'iman.
KISAH PERTAMA
Dalam salah satu kisahnya diceritakan, suatu ketika Nu’aiman melihat penjual madu yang kepanasan dan keletihan setelah berkeliling menajajakan madunya di Madinah. Namun, tidak satu pun dagangannya terjual. Nu’aiman lalu menjumpai penjual madu itu dan diajaknya menuju rumah Rauslullah SAW.
Setelah mendekati rumah Rasulullah, Nu’aiman menyuruh penjual madu menunggu seraya membawa sebotol madu untuk diberikan kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah aku tahu engkau suka madu. Oleh karena itu aku berikan madu ini untukmu sebagai hadiah,” kata Nu’aiman.
Sepintas Nu’aiman senyum-senyum sendiri. Lalu, ia menjumpai penjual madu itu dan mengatakan, “Aku akan pergi karena masih ada urusan. Sebentar lagi penghuni rumah itu akan keluar dan membayar harga madu itu,” ucap Nu’aiman.
Sang penjual pun merasa senang karena dagangannya akhirnya laku. Dia cukup lama menunggu, tapi tak seorang pun yang keluar dari rumah itu. Akhirnya, penjual madu itu mengetuk pintu rumah Rasulullah.
“Wahai penghuni rumah bayarlah harga maduku,” katanya.
Rasulullah SAW yang ada di dalam rumah pun terkejut. Tapi, Rasulullah langsung menyadari perbuatan Nu’aiman yang sedang ingin membuat lelucon. Tanpa berkata apa pun, Rasulullah Saw menemui penjual madu dan membayar harga madu itu.
Ketika Rasulullah bertemu dengan Nu’aiman di kemudian hari, beliau tersenyum dan berkata, ”Apa yang telah engkau lakukan terhadap keluarga Nabimu, wahai Nu’aiman?” kata Rasulullah.
Sambil tersenyum, Nu’aiman menjawab, “Ya Rasulullah, aku tahu engkau suka sekali menikmati madu. Tapi aku tidak punya uang untuk membeli dan menghadiahkan kepadamu. Maka, aku mengantarkan saja kepadamu dan semoga aku mendapat taufiq ke arah kebaikan,” ucap Nu’aiman.
Kisah pendek ke 2 :
Suatu saat pernah Nu'aiman datang membawakan banyak makanan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat. Selesai menghabiskan makanan tersebut, Nu'aiman barulah berkata, "Ya Rasulullah, inilah penjual makanan tadi, silakan Engkau yang bayar."
Juga di kisah yang ke 3 :
Dikisahkan pula bahwa suatu waktu Nu’aiman diajak oleh Abu Bakar untuk pergi ke Negeri Syam. Ketika itu sebelum keberangkatannya, Abu Bakar mendatangi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk memohon izin mengajak dua sahabat untuk ikut berdagang.
"Ya Rasulullah! Saya ingin meminta izin untuk mengajak dua sahabat ikut berdagang ke Negeri Syam, yakni Nu'aiman dan Suwaibith bin Harmalah," kata Abu Bakar, kemudian diizinkanlah mereka oleh Rasulullah untuk bepergian.
Sesampainya di Negeri Syam, semua dibagikan tugas, salah satunya Suwaibith bin Harmalah yang ditugaskan menjaga perbekalan, karena dikenal sebagai orang yang sangat amanah. Saat Abu Bakar sedang pergi berniaga, dan Suwaibith menjaga makanan, datanglah Nu'aiman kepada Suwaibith di waktu siang mengatakan bahwa dirinya telah lapar.
"Wahai Suwaibith, aku sudah lapar, maka berikanlah saya sepotong roti untuk saya makan saat ini," ujar Nu’aiman. Namun, permintaan tersebut tidak diwujudkan oleh Suwaibith, karena dirinya yang amanah itu memilih menunggu Abu Bakar datang.
Mendengar jawaban Suwaibith, lantas Nu'aiman langsung mengancamnya, "Berikan aku sepotong roti itu atau kau akan kuberikan pelajaran."
Namun tetap saja, Suwaibith tetap bersikukuh menjaga amanah dari Abu Bakar dan tidak memberikan sepotong roti itu kepada Nu'aiman.
Nu'aiman bergegas pergi ke pasar, lalu berusaha untuk mencari tempat yang menjual hamba sahaya. Menemukan toko yang dimaksud, ia langsung menanyakan satu per satu dari hamba sahaya tersebut yang ternyata berkisar dari harga 100 hingga 300 dirham.
Kemudian, ia mengatakan kepada penjual hamba sahaya itu, "Aku juga punya hamba sahaya, namun hanya saya jual 20 dirham, murah," katanya.
Mendengar pernyataan Nu'aiman, penjual tersebut tak percaya karena harganya yang sangat murah. Lebih lanjut, Nu'aiman menjelaskan bahwa hamba sahaya yang dimilikinya itu murah karena memiliki aib, di mana ia tak akan mengaku sebagai hamba sahaya dan menyebut dirinya sebagai orang merdeka.
Akhirnya semua orang berkumpul untuk membeli hamba sahaya yang dimaksudkan oleh Nu'aiman. Tak disangka, ternyata Nu'aiman malah mengarahkan mereka kepada Suwaibith.

Nu'aiman menerima uang 20 dirham tersebut, kemudian disusul dengan penangkapan Suwaibith. Ketika ditangkap, Suwaibith berteriak, "Aku bukan hamba sahaya. Aku orang merdeka!" Namun teriakan itu ditanggapi oleh sekumpulan orang yang menangkapnya, "Kami sudah tahu kekuranganmu." Sambil membawa Suwaibith dan menjualnya ke pasar.
Selepas itu, Nu’aiman menjadi orang yang memegang uang banyak. Ia menggunakannya untuk membeli makanan, minuman, hingga hadiah untuk Rasulullah. Tak lama, Abu Bakar pun pulang dan kebingungan karena tak menemukan Suwaibith di mana pun. Dengan mudahnya dan penuh kejujuran, Nu’aiman pun berkata, “Sudah saya jual, wahai Abu Bakar.”
Mengetahui hal tersebut, lantas Abu Bakar tertawa dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Nu’aiman pun menceritakan semuanya secara detail hingga titik di mana Suwaibith akhirnya ia jual. Abu Bakar langsung bergegas ke pasar dan membeli kembali Suwaibith, hingga ia bebas kembali sebagai orang merdeka.
Sepulangnya mereka ke Madinah, kisah ini diceritakan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Maka ketika diceritakan kisah Nu’aiman tersebut, Nabi Muhammad tertawa sejadi-jadinya hingga gigi geraham beliau tampak di depan para sahabat. Hingga setahun berlalu dari kisah tersebut, Rasulullah selalu menceritakan kisah Nu’aiman kepada siapa pun tamu yang datang kepadanya.